Loading
0%

Cara Menanam Kentang

Teknologi Pertanian Dan Perkebunan Lewat kerjasama segi tiga antara BPH Lembang,  JICA (Japan International Coorperation Agency),  dan CIP (Central Internasional Potato)  yang dimulai tahun lalu,  1992,  ditargetkan Indonesia bisa menghasilkan bibit kentang yang baik. Ukuran baik ini,  sama seperti bibit kentang yang selama ini masih diimpor. Harapannya,  para petani bisa memperoleh bibit unggul yang menghasilkan kentang bermutu dan bisa bersaing dengan kentang impor. Hal ini mengingat permintaan kentang impor yang terus meningkat,  sejalan dengan semakin menjamurnya restoran bergaya barat (Jast food) dan perusahaan pengolahan makanan yang berbahan baku kentang (untuk memproduksi cheap).

Apabila keunggulan itu telah diperoleh,  pasar ekspor kentang Indonesia dapat diperluas. Jadi,  tidak terbatas hanya di negara-negara Asia Tenggara saja. Di sini,  kentang Indonesia akan diuji,  mampukah bersaing dengan kentang negeri lain,  baik di pasar dalam maupun luar negeri. Proyek di atas itulah yang merupakan persiapan awalnya.

Upaya untuk mencapai maksud di atas dengan mendatangkan bibit unggul dari luar negeri,  pada saat ini.  Impor bibit diperlukan karena untuk menghasilkan kentang berkualitas baik dipertukan bibit unggul yang sampai sekarang belum ada di Indonesia. Selain berkualitas, bibit tersebut juga tahan terhadap hama penyakit. Umumnya jenis kentang yang diimpor adalah granola (cocok untuk konsumsi) dan diamant serta herta (baik untuk makanan ringan). Negara pengekspor bibit tersebut kebanyakan dari Eropa,  khususnya Jerman dan Belanda.

Dengan begitu maka Balai Pengembangan Hortikultura (BPH) Lembang membuat target,  yaitu dalam tempo 2-3 tahun,  Indonesia paling tidak sudah bisa mengurangi impor kentang. Sedangkan target akhirnya,  setelah lima tahun impor kentang tak diperlukan lagi,  kecuali untuk mengintroduksi jenis-jenis baru.

Sekarang ini,  BPH Lembang sudah menghasilkan bibit yang bebas patogen,  terutama virus yang masuk ke dalam umbi dan menimbulkan penyakit yang mengakibatkan degenerasi. Penyakit ini seperti penyakit AIDS,  bisa menyebabkan daya hasil atau produksi kentang menurun 10% pada generasi pertama dan pada tahun keempat mungkin sudah 100%. Untuk mengatasinya,  dilakukan seleksi yang ketat,  kentang yang kena virus dibuang.

Bibit sehat dan unggul yang didapat segera disebarkan ke petani. Untuk itu,  akan diadakan kerjasama juga dengan para pengusaha pengolahan makanan kentang. Jadi,  ada kerjasama antara instansi pusat,  daerah,  dan penasahaan. Dari sini diharapkan perusahaan kentang juga bisa membagikan bibit tersebut kepada patani. Nanti,  petani mengembalikan lagi kepada perusahan itu.

Selain usaha pengembangan kentang diarahkan ke penggunaan bibit unggul,  juga dilakukan perbaikan dalam budidayanya.

Kelemahan para petani kentang Indonesia adalah pemborosan biaya produksi. Teknis budidaya yang dilakukan petani sudah baik.  Hanya saja mereka masih terlalu memboroskan biaya,  t untuk biaya pembelian pestisida dan pupuk.  Bahkan,  biaya tersebut dapat mencapai hampir 50% dari total biaya produksi.

Petani berpendapat bahwa kalau tanamannya bagus berarti hasilnya juga bagus sehingga petani banyak menggunakan pupuk dan pestisada. Untuk tanaman lain mungkin betul Akan tetapi,  untuk kentang belum tentu sebab kesuburan tanaman kentang bisa memperkecil hasilnya. Ini lantaran banyak energi yang dicurahkan untuk menumbuhkan daun.

Cara mengatasi hal itu,  dengan manajemen pestisida terpadu (integrated pest management)  Maksudnya,  petani dianjurkan agar mengurangi penggunan pestisida dan pupuk sebagai contoh,  dalam penggunaan pestisida,  selama ini petani melakukan penyemprotan pada tanaman sakit dan sehat,  sekarang petani diajarkan untuk menggunakan pestisida bila tanaman menunjukkan gejala sakit. Jadi,  pada prinsipnya kalau tidak dalam keadaan darurat atau tanaman tidak sakit,  petani disarankan tidak melakukan penyemprotan dulu.

Petani juga diajari melihat gejala-gejala penyakit sehingga penyakit dapat dikendalikan secara dini dan secara efisien. Kalau selama ini petani melakukan penyemprotan bisa sampai 20-25 kali dalam satu periode penanaman,  maka setelah mengetahui hal itu,  cukup melakukannya 5-10 kali.

Dalam usaha meningkatkan jumlah produksi,  perlu dilakukan usaha perluasan tanaman kentang di dataran medium. Ada kemungkinan kentang dapat hidup di dataran medium.  Dan Departemen Pertanian sedang mengusahakannya dengan mencari teknologi yang tepat dan membuat bibit silangan yang tepat pula. Sehingga lahan sekitar 250.000 hektar di dataran medium yang siap digarap untuk tanaman kentang dapat diproduksikan